Senin, 10 Desember 2012

Solutio (Larutan) IV

Hal –hal yang perlu diperhatikan pada pembuatan obat tetes mata :

a.    Nilai isotonisitas.
            Secara ideal obat tetes mata harus memiliki nilai isotonis sama dengan larutan NaCl 0,9 % b/v. Tetapi mata masih dapat tahan terhadap nilai isotonis rendah yang setara dengan larutan NaCl 0,6 % b/v dan tertinggi yang setara dengan larutan NaCl 2, 0 % b/v.

b.    Pendaparan
            Salah satu maksud pendaparan larutan obat mata adalah untuk mencegah kenaikan pH yang disebabkan oleh pelepasan lambat ion hidroksil oleh wadah kaca. Hal tersebut dapat mengganggu kelarutan dan stabilitas  obat. Selain itu penambahan dapar juga dimaksudkan untuk menjaga stabilitas obat tertentu misalnya : garam – garam alkaloid.
            Air mata normal memiliki pH 7,4  secara ideal obat tetes mata memiliki pH  seperti pada air mata, tetapi karena beberapa bahan obat tidak stabil (tidak larut/ rusak/ mengendap) pada pH tersebut maka sebaiknya obat tetes mata di dapar pada pH sedekat mungkin dengan pH air mata supaya tidak terlalu merangsang mata.
            Pada larutan yang digunakan pada mata, terlebih pada mata yang luka sterilitas adalah yang paling penting, untuk mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut.    

c. Pengawet
            Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. Larutan harus mengandung zat atau campuran zat  yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan bakteri yang mungkin masuk  pada waktu wadah dibuka pada saat digunakan.


Pengawet yang dianjurkan :
§ nipagin dan nipasol
§ fenil merkuri nitrat, timerosol
§ benzalkonium klorid
§ klorbutanol, fenil etil alcohol

            Untuk penggunaan pada pembedahan , selain steril larutan obat mata tidak boleh mengandung antibakteri karena dapat menimbulkan iritasi pada jaringan mata.

d. Pengental
                Ditambahkan untuk meningkatkan kekentalan sehingga obat lebih lama kontak dengan jaringan. Larutan obat mata yang dikentalkan  harus bebas dari partikel yang dapat terlihat. Contoh : metil selulosa, hidroksi propil selulosa, polivinil alcohol

       Cara pembuatan obat tetes mata
a.    Obat dilarutkan kedalam sal;ah satu zat pembawa yang mengandung salah satu zat pengawet , dijernihkan dengan cara penyaringan, masukkan kedalam wadah, tutup wadah dan sterilkan menggunakan autoklaf pada suhu 115-116oC selama 30 menit.

b.    Obat dilarutkan kedalam cairan pembawa berair yang mengandung salah satu zat pengawet dan disterilkan menggunakan bakteri filter masukkan kedalam wadah secara tehnik aseptis dan tutup rapat

c.    Obat dilarutkan kedalam cairan pembawa berair yang mengandung salah satu zat pengawet, dijernihkan dengan cara penyaringan, masukkan kedalam wadah, tutup rapat dan sterilkan dengan penambahan bakterisid , dipanaskan pada suhu 98- 100oC selama 30 menit.

3.    Gargarisma (Gargle)
       Gargarisma atau obat kumur mulut adalah sediaan berupa larutan umumnya dalam keadaan pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan. Dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan.

Penandaan.
1.    Petunjuk pengenceran sebelum digunakan
2.    “ Hanya untuk kumur, tidak ditelan “
Contoh : Betadin Gargle.

4.   Litus Oris.
       Oles Bibir adalah cairan agak kental dan pemakaiannya secara disapukan dalam mulut.
Contoh : Larutan 10 % borax dalam gliserin.

5.   Guttae Oris
       Tetes mulut adalah obat tetes yang digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air untuk dikumur-kumurkan, tidak untuk ditelan.

6.   Guttae Nasales
     Tetes hidung adalah obat yang digunakan untuk hidung dengan cara  meneteskan obat ke dalam rongga hidung, dapat mengandung zat  pensuspensi, pendapar dan pengawet. Minyak lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan pembawa.

7.    Inhalationes
     Sediaan yang dimaksudkan untuk disedot hidung atau mulut, atau disemprotkan dalam bentuk kabut kedalam saluran pernafasan . Tetesan butiran kabut harus seragam dan sangat halus sehingga dapat mencapai  bronkhioli. Inhalasi merupakan larutan dalam air atau gas. ( akan dibahas lebih lanjut dikelas III)
Penandaan :  Jika mengandung bahan yang tidak larut pada etiket harus tertera  “ Kocok dahulu”

1.        Injectiones  / obat suntik. (dibahas dikelas III)

2.        Lavement / Clysma / Enema.
                       Cairan yang pemakaiannya per rectum/colon  yang gunanya untuk membersihkan atau menghasilkan efek terapi setempat atau sistemik Enema yang digunakan untuk membersihkan atau penolong pada sembelit  atau pembersih faeces sebelum operasi, tidak boleh mengandung zat lendir. Selain untuk membersihkan enema juga berfungsi sebagai karminativa, emolient, diagnostic, sedative, anthelmintic dan lain-lain.  Dalam hal ini untuk mengurangi kerja obat yang bersifat merangsang terhadap  usus , dipakai basis berlendir  misalnya mucilago amyli. Pada pemakaian per rectal berlaku dosis maksimal.
            Enema diberikan dalam jumlah variasi tergantung pada umur dan keadaan penderita. Umumnya 0,5 sampai 1 liter, tetapi ada juga yang diperpekat  dan diberikan sebanyak 100 – 200 ml.

10. Douche.    
       Adalah larutan dalam air yang dimasukkan dengan suatu alat ke dalam vagina, baik untuk pengobatan maupun untuk membersihkan. Karenanya larutan ini mengandung bahan obat atau antiseptik. Untuk memudahkan, kebanyakan douche ini dibuat dalam bentuk kering/padat (serbuk, tablet yang kalau           hendak digunakan dilarutkan dalam sejumlah air tertentu, dapat juga diberikan larutan kental yang nantinya diencerkan seperlunya. Contoh Betadin Vaginal Douche (dikemas beserta aplikatornya)

11.    Epithema /Obat kompres
     Adalah cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat tempat yang sakit dan panas karena radang atau berdasarkan sifat perbedaan tekanan osmose digunakan untuk mengeringkan luka bernanah. Contoh :   Liquor Burowi, Solutio Rivanol, campuran Borwater - Rivanol.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar